Vatikan tidak akan berpartisipasi dalam inisiatif “Board of Peace” yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hal itu disampaikan Kardinal Pietro Parolin, pejabat diplomatik tertinggi Vatikan, yang menegaskan bahwa penanganan krisis seharusnya dikelola oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Takhta Suci “tidak akan berpartisipasi dalam Board of Peace karena sifat khususnya, yang jelas tidak sama dengan negara-negara lain,” kata Parolin pada Selasa.
“Salah satu kekhawatiran,” ujarnya, “adalah bahwa di tingkat internasional, seharusnya PBB yang mengelola situasi krisis ini. Ini adalah salah satu poin yang terus kami tekankan.”
Paus Leo, paus pertama asal Amerika Serikat yang juga mengkritik sejumlah kebijakan Trump, diundang untuk bergabung dalam dewan tersebut pada Januari.
Dalam rencana Gaza yang digagas Trump dan menghasilkan gencatan senjata rapuh pada Oktober, dewan itu awalnya ditujukan untuk mengawasi pemerintahan sementara di Gaza. Trump kemudian menyatakan dewan tersebut, dengan dirinya sebagai ketua, akan diperluas untuk menangani konflik global. Pertemuan pertama dewan dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis untuk membahas rekonstruksi Gaza.
Board of Peace beranggotakan sekutu dekat AS di Eropa, Timur Tengah, Asia Timur, dan Amerika Latin. Italia serta Uni Eropa menyatakan perwakilan mereka akan hadir sebagai pengamat, karena belum bergabung sebagai anggota dewan.
Meksiko tolak keanggotaan penuh
Sementara itu, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, mengatakan pada Selasa bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi sebagai anggota penuh dalam kelompok yang dipimpin AS tersebut. Keputusan itu diambil karena tidak adanya perwakilan Palestina dalam Board of Peace yang mengawasi rencana gencatan senjata Gaza.
“Mengingat kami mengakui Palestina sebagai sebuah negara, penting bahwa kedua negara — Israel dan Palestina — ikut serta. Saat ini tidak demikian,” ujarnya dalam konferensi pers.
Sheinbaum mengatakan Meksiko akan mengirim duta besarnya untuk PBB sebagai pengamat.
“Mereka mengundang kami untuk hadir sebagai pengamat. Jika kami tidak berpartisipasi, maka setidaknya hadir sebagai pengamat. Bersama menteri luar negeri, kami memutuskan bahwa duta besar kami untuk PBB akan hadir sebagai pengamat,” tambahnya.
Sheinbaum sebelumnya menyatakan dukungannya kepada Palestina, menyebut serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza dan terhadap rakyat Palestina sebagai genosida serta menyerukan solusi dua negara.

















