Keterkaitan pelaku kejahatan seks terpidana Jeffrey Epstein dengan sejumlah pemimpin politik dan bisnis paling berpengaruh di dunia kembali menjadi sorotan utama media internasional dalam beberapa bulan terakhir.
Jutaan dokumen, video, dan gambar terkait Epstein yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat memicu gelombang pengawasan publik terhadap jaringan perdagangan seksnya. Jaringan itu menjerat ratusan gadis di bawah umur, namun mampu menghindari aparat penegak hukum selama bertahun-tahun.
Meski aktivitas jaringan tersebut dan kejahatan terhadap anak di bawah umur sudah muncul dalam laporan polisi dan dokumen pengadilan sejak awal 2000-an, Epstein bebas dari jerat hukum hingga 2008.
Bahkan setelah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara pada 2008, ia nyaris tidak menghabiskan waktu di balik jeruji, karena diizinkan tinggal di kediaman mewahnya dan bepergian ke pulau pribadinya di Kepulauan Virgin AS.
Yang lebih mencolok, Epstein dapat kembali menjalani gaya hidup mewah setelah masa hukumannya dipangkas menjadi 13 bulan dan berakhir pada pertengahan 2009.
Ia baru kembali ditangkap satu dekade kemudian, meskipun dituduh telah menyiksa dan memperdagangkan lebih dari 1.000 gadis.
Lalu bagaimana Epstein mampu menghindari keadilan selama itu hingga akhirnya dipenjara di New York, tempat ia bunuh diri pada 2019?
Sejumlah analis dan jurnalis investigasi yang berperan penting dalam mengungkap sebagian jaringan perdagangan seks Epstein menduga hubungan kuatnya dengan lembaga intelijen AS, Israel, dan kemungkinan negara lain, serta kedekatannya dengan elite politik dan finansial, membantunya lolos dari hukum selama bertahun-tahun.
Apakah Epstein seorang mata-mata?
Salah satu potongan teka-teki dalam kasus Epstein adalah dugaan bahwa ia bekerja sebagai mata-mata bagi sejumlah badan intelijen.
Jurnalis investigasi Vicky Ward mengutip Alexander Acosta, mantan jaksa federal Distrik Selatan Florida yang menawarkan kesepakatan pembelaan kontroversial kepada Epstein pada 2008.
Ward menuliskan bahwa Acosta mengaku diberi tahu oleh atasan bahwa Epstein “milik intelijen”—diduga CIA—dan memiliki status “biarkan saja”. Karena itu, ia tidak dapat mengejar Epstein secara hukum.
Menurut Ward, Acosta mundur dari penuntutan pada 2007 meski memiliki bukti kuat, karena Epstein dianggap “berada di luar kewenangannya”. Hal ini memunculkan pertanyaan: intelijen negara mana yang melindunginya?
Pakar keamanan dan mantan analis National Security Agency, John Schindler, meyakini Epstein memang seorang mata-mata, meski belum jelas untuk badan intelijen mana. Ia menyebut kemungkinan keterkaitan dengan intelijen Rusia dan Israel, serta koneksi dengan lembaga AS seperti FBI.
Selain kasus Acosta, terdapat indikasi bahwa Epstein sejak awal terlibat dalam transaksi politik, finansial, bahkan militer antara AS, Israel, dan negara lain.
Epstein, yang pernah bekerja di perusahaan investasi Bear Stearns pada 1980-an, juga diduga terlibat perdagangan senjata saat muda. Ward menyebut ia pernah mengatur pertemuan kontraktor pertahanan di Pentagon pada 1981.
Pakar urusan global Dan Steinbock menilai ada kejanggalan besar karena Epstein menikmati “kekebalan politik jangka panjang bahkan setelah kejahatannya terdokumentasi, serta berada dalam pemantauan FBI”.
Menurutnya, durasi panjang aktivitas Epstein, kunjungan tokoh Israel tingkat tinggi, serta target politik AS yang terlibat menunjukkan adanya hubungan dengan komunitas intelijen.
Salah satu tokoh Israel yang dikaitkan adalah mantan perdana menteri Ehud Barak. Hubungan Barak dengan Epstein telah banyak dilaporkan, termasuk kunjungan dan masa tinggalnya di rumah Epstein di Manhattan.
Mantan pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Israel, Alon Liel, menyebut hubungan tersebut “sangat memalukan”, namun tidak yakin apakah Mossad memanfaatkan jaringan Epstein untuk kepentingan Israel.
Meski pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu menolak mengaitkan negara itu dengan Epstein, terdapat sejumlah hubungan antara finansier tersebut dan Israel.
Selain kedekatan dengan Barak, Epstein disebut berperan dalam kesepakatan keamanan Israel dengan Pantai Gading serta pembentukan hubungan Mongolia–Israel, menurut dokumen yang diungkap.
Laporan FBI 2020 juga menyebut seorang sumber intelijen AS mengatakan Epstein “direkrut sebagai agen Mossad” dan dilatih sebagai mata-mata untuk dinas intelijen Israel.
Analis politik Rumania Ecaterina Matoi mengatakan dokumen terbaru menunjukkan Epstein mengikuti perkembangan global secara intens, termasuk negara-negara yang menjadi perhatian khususnya—yang juga relevan bagi badan intelijen.
Menurutnya, hal ini menunjukkan karakter yang melampaui sekadar informan atau agen biasa, mengarah pada keterlibatan lebih kompleks dalam operasi intelijen.
Sejumlah penulis buku Epstein: Dead Men Tell No Tales juga berpendapat Epstein memiliki hubungan kuat dengan Mossad, merujuk pada kesaksian mantan perwira intelijen Israel Ari Ben-Menashe.
Penulis Dylan Howard mengatakan bukti yang mereka temukan menunjukkan Epstein berperan sebagai mata-mata, terutama untuk Mossad, dan dapat beroperasi di AS tanpa konsekuensi hukum.
Ia disebut memanfaatkan akses ke kalangan elite untuk menjebak tokoh berpengaruh dan mengumpulkan informasi kompromi yang kemudian diperdagangkan ke badan intelijen.
Namun, pertanyaan utama tetap belum terjawab: untuk siapa sebenarnya Epstein bekerja?
Koneksi Epstein–Maxwell
Hubungan Epstein dengan Israel juga memiliki dimensi personal melalui Robert Maxwell, ayah Ghislaine Maxwell—rekan dekat sekaligus pasangan Epstein.
Robert Maxwell, pengusaha media Inggris berdarah Yahudi kelahiran Cekoslowakia, diyakini memiliki hubungan panjang dengan Israel.
Steinbock menilai peran keluarga Maxwell penting dalam memahami dugaan hubungan Epstein dengan Mossad.
Pada Perang Arab–Israel 1948, Maxwell membantu meyakinkan pemimpin komunis Cekoslowakia untuk mempersenjatai kelompok Zionis, yang kemudian membantu mereka meraih keunggulan udara.
Maxwell meninggal dalam kondisi misterius pada 1991 saat menghadapi kebangkrutan.
Dalam email 2018, Epstein menulis bahwa Maxwell meninggal setelah mengancam akan membongkar hubungan dengan Mossad jika tidak diberikan dana besar untuk menyelamatkan bisnisnya.
Ward menyebut Maxwell berperan sebagai penghubung antara Israel dan pemerintah lain, serta memperkenalkan Epstein kepada pemimpin Israel yang kemudian diduga memanfaatkannya dalam operasi pengaruh.
Maxwell dimakamkan di Bukit Zaitun, Yerusalem, dalam pemakaman yang dihadiri tokoh politik dan intelijen Israel tingkat tinggi, termasuk mantan perdana menteri Yitzhak Shamir dan mantan presiden Chaim Herzog.
Pemakaman tersebut dianggap menunjukkan hubungan Maxwell dengan pemerintah Israel yang melampaui sekadar relasi biasa dengan Mossad.
Meski masih diperdebatkan kapan Epstein bertemu Maxwell, banyak bukti menunjukkan keduanya memiliki hubungan dekat. Sejumlah sumber juga menyebut Ghislaine Maxwell diperkenalkan kepada Epstein oleh ayahnya.
Ghislaine Maxwell dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas keterlibatannya dalam kejahatan seksual terhadap anak dan perdagangan manusia. Ia dilaporkan memeluk agama Yahudi selama menjalani hukuman dan baru-baru ini menggunakan hak Amandemen Kelima untuk menolak mengungkap koneksi Epstein dengan elite politik.

















