DUNIA
2 menit membaca
Teheran bentuk komisi pencari fakta setelah ribuan orang tewas dalam aksi protes
Komisi tersebut akan mengumpulkan dokumen dan kesaksian dari lembaga-lembaga terkait untuk meneliti penyebab kerusuhan, menurut pemerintah Iran.
Teheran bentuk komisi pencari fakta setelah ribuan orang tewas dalam aksi protes
Orang-orang berjalan di Grand Bazaar Teheran di Teheran, Iran, pada 15 Januari 2026. / Reuters
9 jam yang lalu

Komisi tersebut akan mengumpulkan dokumen dan kesaksian dari lembaga terkait untuk meneliti penyebab kerusuhan, menurut pemerintah Iran.

Pemerintah Iran pada Jumat mengumumkan pembentukan komisi penyelidikan untuk menelaah aksi protes terkait tingginya biaya hidup yang kemudian berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah dan menewaskan ribuan orang.

“Sebuah komite pencari fakta telah dibentuk dengan perwakilan dari lembaga terkait dan saat ini tengah mengumpulkan dokumen serta mendengarkan pernyataan,” ujar juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani kepada kantor berita lokal ISNA.

Juru bicara tersebut tidak menjelaskan apakah komisi hanya akan fokus pada tuntutan ekonomi yang memicu protes, atau juga akan menyelidiki kematian yang terjadi selama aksi demonstrasi.

“Laporan akhir akan dipublikasikan untuk informasi publik dan tindak lanjut hukum setelah proses ini selesai,” katanya.

Pada Kamis, situs resmi pemerintah memuat pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian yang mengatakan, “Kami telah menugaskan tim untuk menyelidiki penyebab (kerusuhan),” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Aksi protes yang dimulai pada akhir Desember sebelum meningkat tajam pada 8 Januari tersebut menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut angka resmi.

Otoritas Iran mengklaim bahwa sebagian besar korban merupakan aparat keamanan atau warga sipil yang tewas akibat serangan “teroris” yang bekerja untuk Israel dan Amerika Serikat.

Namun, kelompok advokasi hak asasi manusia yang berbasis di luar Iran menuduh pasukan keamanan justru menargetkan para demonstran.

Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 7.005 orang tewas pada puncak aksi protes.

“Kami merasa malu bahwa peristiwa yang begitu disayangkan ini telah terjadi,” kata Pezeshkian, menurut laporan yang dipublikasikan di situs resmi pemerintah.

SUMBER:AFP
Jelajahi
Prabowo bertolak ke Washington DC, temui Donald Trump bahas kerja sama strategis
Kasus perdata bersejarah menuntut ganti rugi dari militer Myanmar atas genosida Rohingya
Iran menunjukkan kesiapan untuk berkompromi dalam pembicaraan nuklir jika AS cabut sanksi
Jepang mengecam China atas tuduhan kebangkitan militerisme
Ledakan kembang api mematikan guncang China jelang Tahun Baru Imlek
Para pemimpin global berkumpul di Munich saat 'politik buldoser' menimbulkan kekhawatiran
Dari pengasingan ke kekuasaan: Tarique Rahman bersiap memimpin Bangladesh sebagai PM
AS kirim kapal induk lainnya ke Timur Tengah di tengah pembicaraan nuklir Iran
Polisi Australia akui menyeret jemaah Muslim meski telah diizinkan salat saat kunjungan Herzog
Louis Vuitton keluarkan US$595.000 untuk selesaikan kasus pencucian uang di Belanda
Saat perjanjian New START berakhir, dapatkah AS dan Rusia mencapai perjanjian senjata nuklir baru?
Harga tiket melonjak tinggi saat pasar penjualan kembali tiket Piala Dunia FIFA
Rusia akan memberikan bantuan energi kepada Kuba yang sedang mengalami krisis
Desa dievakuasi setelah puing-puing dari serangan rudal mengenai situs militer Rusia: pejabat
Skor Indeks Persepsi Korupsi 2025 turun, posisi Indonesia anjlok ke 109 dunia
Prabowo dijadwalkan teken kesepakatan tarif dengan AS pekan depan
Indonesia turun ke posisi 109 dalam indeks persepsi korupsi 2025
Indonesia–Inggris luncurkan MFP fase 5 untuk perkuat tata kelola hutan
China bertindak saat Kuba hadapi krisis bahan bakar yang semakin parah di bawah tekanan AS
'Kasus genosida paling komprehensif sejauh ini': Gambia menekan Myanmar di ICJ