Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 18 Juni bersumpah akan melakukan "pembalasan berat" terhadap kepemimpinan Israel di tengah memuncaknya ketegangan antara kedua negara. Khamenei mengancam akan menyingkirkan para politisi Israel yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.
"Kami tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada rezim Zionis," tulis pemimpin Iran itu di media sosial X (sebelumnya Twitter), hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memberi isyarat tentang kemungkinan eliminasi Israel.
Belum jelas apakah Iran memiliki kemampuan untuk melakukan serangan presisi terhadap gedung-gedung pemerintahan Israel. Pada 17 Juni, Kementerian Pertahanan Iran mengklaim telah menyerang markas Mossad di Tel Aviv. Israel belum mengonfirmasi klaim tersebut, namun mengakui bahwa rudal Iran telah menghantam “sejumlah target militer.”
Pada pagi hari tanggal 18 Juni, Iran meluncurkan rudal hipersonik ke arah Israel, yang kemudian dibalas oleh militer Israel dengan menyerang Teheran. Saksi mata melaporkan terjadi ledakan dahsyat di ibu kota Iran.
Itu adalah hari keenam berturut-turut di mana kedua pihak saling melancarkan serangan. Peluncuran rudal ini terjadi setelah pernyataan keras dari Trump yang menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran dan memperingatkan bahwa kesabaran AS “mulai habis.”
Meski secara resmi tidak terlibat dalam operasi, Presiden Trump semakin memberi sinyal bahwa AS dapat mendukung Israel. Salah satu wacana yang beredar adalah kemungkinan penyerahan bom super berat GBU-57 milik Amerika ke Tel Aviv—bom yang mampu menembus bunker hingga kedalaman 80 meter.
Israel juga berjanji akan melenyapkan kepemimpinan Iran dan, tidak seperti Iran, negara itu disebut-sebut telah sebagian mencapai tujuannya. Dalam enam hari terakhir, lebih dari selusin ilmuwan nuklir top Iran dilaporkan tewas, begitu pula hampir seluruh jajaran komando militer tertinggi.
Tel Aviv mengklaim telah menghancurkan elemen-elemen penting komando militer Iran serta menghantam infrastruktur nuklir utama, termasuk fasilitas di Natanz dan Isfahan. Israel menyatakan bahwa serangan tersebut telah menunda kemampuan Iran untuk membangun bom nuklir selama beberapa bulan.
Namun, media Iran membantah klaim tersebut, dan otoritas Iran menegaskan bahwa kerusakan pada fasilitas nuklir sangat minim, sebagian besar hanya mengenai bangunan di permukaan, sementara instalasi nuklir utama berada jauh di bawah tanah.









