Jakarta menempati peringkat ke-140 dari 1.000 kota dunia dalam Global Cities Index 2026 yang disusun Oxford Economics, meningkat signifikan dari posisi ke-287 pada 2024 dan ke-159 pada 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan perbaikan posisi Jakarta dalam sejumlah indikator perkembangan kota secara global.
Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan peningkatan tersebut tidak terlepas dari perkembangan jaringan transportasi publik di ibu kota. Ia menyampaikan hal itu dalam acara Hari Perhubungan Nasional di Kelapa Gading, Selasa (29/9).
"Konektivitas transportasi publik di Jakarta kini telah mencapai lebih dari 93 persen," kata Pramono, seraya menyebut jumlah pengguna berbagai jaringan transportasi utama juga terus bertambah seiring dengan semakin luasnya akses layanan.
Menurutnya, masyarakat yang sebelumnya mengandalkan kendaraan pribadi mulai beralih ke transportasi umum, dengan jumlah pengguna meningkat rata-rata lebih dari 15 persen. Peralihan tersebut turut mendorong peningkatan pemanfaatan jaringan transportasi publik di berbagai wilayah Jakarta.
Pramono juga mengatakan minat masyarakat terhadap LRT rute Kelapa Gading-Manggarai tetap tinggi setelah layanan tersebut diresmikan. Penggunaan transportasi publik diperkirakan kembali meningkat setelah pembangunan jaringan diperluas hingga Dukuh Atas, Jakarta International Stadium (JIS), serta Stasiun Kereta Cepat Whoosh di Halim.
Lima indikator utama
Secara nasional, Jakarta menjadi kota dengan peringkat tertinggi di Indonesia, disusul Surabaya, Medan, dan Bandung. Posisi tersebut menempatkan ibu kota sebagai kota Indonesia dengan capaian keseluruhan tertinggi dalam indeks tahun ini.
Oxford Economics menilai 1.000 kota berdasarkan lima indikator utama, yakni ekonomi, modal manusia, kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola. Jakarta mencatat hasil terbaik pada kategori modal manusia dengan berada di posisi ke-23 dunia, sementara sektor ekonomi menempati peringkat ke-59.
Di sisi lain, Jakarta berada di peringkat ke-372 untuk tata kelola, ke-553 dalam lingkungan, dan ke-561 untuk kualitas hidup. Indikator tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara perkembangan modal manusia dan ekonomi dengan sejumlah aspek perkotaan lainnya.
Laporan tersebut juga memproyeksikan pertumbuhan kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi di Jakarta. Dalam 25 tahun mendatang, jumlah rumah tangga berpendapatan tinggi di ibu kota diperkirakan bertambah lebih dari 1,7 juta.























