ASIA
2 menit membaca
Angka kelahiran China anjlok ke level terendah sejak 1949
Data terbaru menunjukkan angka kelahiran turun menjadi 5,6 per 1.000 orang pada tahun lalu, dengan jumlah bayi baru lahir merosot hingga ke angka 7,9 juta.
Angka kelahiran China anjlok ke level terendah sejak 1949
Jin Yanxi, yang lahir pada tahun 2014, berpose untuk sebuah foto di Shanghai pada tanggal 4 September 2014 [FILE]. / Reuters
19 Januari 2026

Angka kelahiran di China dilaporkan telah jatuh ke level terendah sejak berdirinya Republik Rakyat China pada tahun 1949.

Data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional menunjukkan bahwa angka kelahiran merosot menjadi 5,6 per 1.000 orang pada tahun lalu, dengan total bayi baru lahir turun menjadi 7,9 juta jiwa. Mengutip laporan Bloomberg pada Senin, angka ini menunjukkan penurunan tajam sebesar 1,6 juta jiwa sekaligus menjadi penurunan paling drastis sejak tahun 2020.

Kondisi tersebut menyebabkan total populasi China menyusut hingga 3,4 juta jiwa, yang menandai penurunan populasi selama empat tahun berturut-turut.

Angka-angka ini menjadi pukulan telak bagi upaya Beijing dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang "ramah fertilitas" di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, meskipun pemerintah telah menggelontorkan berbagai insentif seperti subsidi tunai, perpanjangan cuti orang tua, hingga bantuan lainnya.

Selain itu, China mencatat angka pernikahan terendah sejak 1980 pada tahun 2024, di mana hanya 6,1 juta pasangan yang menikah—turun 20,5 persen dibandingkan tahun 2023. Di sisi lain, angka perceraian justru mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen.

Tekanan demografi di negara tersebut kian mendalam seiring menetapnya angka kelahiran yang rendah. Hal ini dipicu oleh berkurangnya jumlah perempuan usia produktif, serta kecenderungan generasi muda yang menunda pernikahan dan memiliki anak akibat tekanan sosial dan ekonomi.

Pemerintah Beijing sebenarnya telah menerapkan berbagai kebijakan untuk membendung penurunan angka pernikahan dan kelahiran ini, namun upaya tersebut dinilai belum menunjukkan dampak yang signifikan.

Hingga tahun 2024, total populasi China tercatat berada di angka 1,4 miliar jiwa, yang menandai penurunan tahunan ketiga berturut-turut sejak 2021.

Ekonomi China

Sementara itu, data resmi yang dirilis pada Senin menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh sebesar 5 persen pada tahun 2025, berhasil memenuhi target pertumbuhan tahunan pemerintah.

Berdasarkan angka dari Biro Statistik Nasional, Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut melampaui rekor 140 triliun yuan (sekitar 20 triliun dolar AS).

Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini berhasil mencapai target pertumbuhan pemerintah di kisaran 5 persen, meskipun harus menghadapi tekanan dari lemahnya permintaan domestik, tren deflasi, kelesuan sektor real estat yang berkepanjangan, serta ketidakpastian eksternal terkait kebijakan tarif dari Amerika Serikat.

SUMBER:TRT World & Agencies