Program makan gratis yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menekan angka malnutrisi ternyata menjadi penyumbang terbesar kasus keracunan makanan di Indonesia tahun ini.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan kepada DPR pada Rabu (12/11) bahwa dari 441 insiden keracunan yang tercatat sejak Januari, sebanyak 211 di antaranya atau sekitar 48 persen berasal dari program makan gratis tersebut. Total lebih dari 11.000 orang dilaporkan keracunan, dengan lebih dari 600 orang sempat dirawat di rumah sakit.
"Sebagian besar kasus disebabkan oleh kontaminasi bakteri E. coli," ujar Dadan. Ia menambahkan, pemerintah kini memperketat pengawasan dapur penyedia makanan dengan mewajibkan sterilisasi peralatan dan penggunaan air tersaring dalam proses memasak maupun pencucian.
Insiden besar terakhir terjadi bulan lalu ketika lebih dari 660 siswa di Jawa Tengah mengalami diare, mual, dan pusing setelah menyantap makanan dari program tersebut. Saat ini terdapat lebih dari 14.000 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia, melayani sekitar 42 juta penerima manfaat, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Meski dikritik karena masalah kebersihan dan efisiensi anggaran, Presiden Prabowo tetap mempertahankan program senilai miliaran dolar ini. Ia menilai jumlah kasus keracunan masih tergolong kecil dibanding total porsi makanan yang telah disalurkan. "Program ini tidak sempurna, tapi merupakan capaian yang diakui banyak negara," kata Prabowo bulan lalu.
Pemerintah menargetkan hingga akhir 2025, sebanyak 82,9 juta warga atau sekitar sepertiga populasi Indonesia akan menerima makanan bergizi melalui program ini. Mulai 2026, cakupan penerima akan diperluas ke lansia dan penyandang disabilitas.








