Sebanyak 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak kebakaran hutan dan lahan hingga 21 September 2026. Kementerian Kesehatan menyebut lebih dari 40.000 kasus tersebut dialami balita.
Pejabat Kementerian Kesehatan Then Suyanti mengatakan angka tersebut berasal dari tujuh provinsi yang terdampak kabut asap. Jumlahnya meningkat dari lebih dari 113.000 kasus yang tercatat hingga 9 September.
Kebakaran di Kalimantan, Sumatera, dan Papua telah menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia serta menurunkan kualitas udara. Asap tersebut mengandung berbagai polutan, termasuk PM2.5, partikel halus yang dapat meningkatkan risiko gangguan dan infeksi saluran pernapasan.
Pemerintah telah mengirimkan bantuan ke wilayah terdampak, antara lain konsentrator oksigen, masker, dan tabung oksigen. Masyarakat juga diminta membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, memakai masker, dan menjaga hidrasi.
Indonesia biasanya menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau yang berlangsung sekitar Juli hingga Oktober. Namun, kebakaran tahun ini dinilai lebih intens di tengah fenomena El Nino yang diperkirakan menjadi yang terkuat sejak pencatatan fenomena serupa dimulai sekitar empat dekade lalu.
Dampak El Nino parah
Dalam laporan terpisah, Climate Impact Lab memperkirakan El Nino tahun ini dapat menyebabkan sekitar 19.300 kematian tambahan akibat panas di Indonesia pada Juni 2026 hingga akhir Februari 2027. Secara global, angka tersebut diperkirakan mencapai 451.000 kematian tambahan dibandingkan tahun normal.
Peneliti menyebut negara dengan iklim panas dan sumber daya terbatas berisiko menghadapi dampak lebih besar. Di Indonesia, kondisi ini dapat memperberat dampak kebakaran hutan dan lahan serta kualitas udara yang memburuk.
Climate Impact Lab memperkirakan suhu daratan global selama El Nino dapat meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius dan memicu 44 persen lebih banyak hari dengan suhu ekstrem dibandingkan tahun normal.
Upaya mengurangi risikonya mencakup sistem peringatan dini, pusat pendinginan, titik hidrasi, perlindungan pekerja luar ruangan, serta peningkatan kapasitas rumah sakit. Pemerintah juga didorong menyiapkan sumber daya sebelum suhu ekstrem mencapai puncaknya.





















