Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai penghubung pasar ekonomi syariah global dalam ajang Indonesia Economic Summit (IES) 2026. Menurutnya, Indonesia aktif mendorong integrasi pasar syariah melalui penguatan konektivitas lintas batas, perdagangan, dan investasi.
Pernyataan itu disampaikan dalam sesi Multilateral Business Roundtable Indonesia–B57+ pada Rabu (4/2). Forum tersebut dihadiri pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Nasaruddin mengatakan peran Indonesia di ekonomi syariah global tidak sekadar klaim, tetapi ditopang capaian yang diakui dunia. Indonesia, kata dia, mempertahankan peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2024/2025, di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
Menurutnya, posisi tersebut mencerminkan kekuatan dan ketahanan ekosistem ekonomi syariah nasional sekaligus memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai pusat kerja sama ekonomi syariah.
Ia juga menyoroti keunggulan Indonesia di sejumlah sektor. Indonesia tercatat menempati peringkat pertama dunia untuk modest fashion, serta menjadi salah satu pemain utama di sektor pariwisata ramah Muslim, kosmetik halal, dan produk farmasi halal.
Di sektor keuangan, industri keuangan syariah nasional juga menunjukkan kinerja kuat. Per Oktober 2025, aset keuangan syariah mencapai 30,3 persen dari total aset keuangan nasional.
Selain itu, Indonesia disebut menjadi tujuan investasi halal terbesar di dunia. Sepanjang 2023, tercatat sekitar 40 transaksi investasi halal dengan nilai sekitar 1,6 miliar dolar AS, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global.
Nasaruddin menambahkan, inisiatif B57+ sejalan dengan prinsip ekonomi syariah yang menekankan keadilan, kerja sama, dan keterkaitan dengan sektor riil. Ekonomi halal dinilai menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas akses pembiayaan dan memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai global.













