Sebanyak delapan wilayah tambang di Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung diidentifikasi memiliki potensi signifikan logam tanah jarang (rare earth elements/REE). Informasi tersebut disampaikan Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto dalam rapat bersama DPR, Senin (9/2).
Menurut Brian, selain logam tanah jarang, beberapa blok juga mengandung mineral strategis lain seperti tungsten, tantalum, dan antimon. Mineral-mineral tersebut memiliki peran penting, termasuk untuk kebutuhan industri pertahanan.
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur, termasuk 15 logam berwarna putih keperakan, yang digunakan dalam pembuatan magnet berkekuatan tinggi. Magnet ini menjadi komponen utama dalam kendaraan listrik, telepon seluler, hingga sistem persenjataan modern.
Pengelolaan blok-blok tersebut rencananya akan dilakukan oleh perusahaan tambang milik negara yang baru dibentuk, yakni Perminas. Meski belum merinci estimasi cadangan, Brian menyebut potensi yang ada cukup menjanjikan dan dinilai mampu bersaing dengan negara lain.
Sebagai bagian dari penguatan hilirisasi mineral, dua proyek riset pengembangan teknologi pengolahan logam tanah jarang akan segera diluncurkan di Mamuju, Sulawesi Barat. Penelitian tersebut akan berjalan bersamaan dengan persiapan eksplorasi tambang.
Selama ini, Indonesia dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia dan eksportir utama timah. Pengembangan logam tanah jarang dinilai dapat memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, khususnya untuk industri teknologi dan energi bersih.








