DUNIA
3 menit membaca
Air mata dan keheningan menyelimuti doa bersama korban kebakaran di Swiss
Sedikitnya 47 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka dalam kebakaran yang melanda bar Le Constellation saat perayaan Tahun Baru.
Air mata dan keheningan menyelimuti doa bersama korban kebakaran di Swiss
Para pelayat meletakkan karangan bunga di atas meja yang dipasang sementara di pintu masuk jalan menuju bar tersebut. / Reuters
2 jam yang lalu

Ratusan orang berkumpul dalam keheningan di tengah udara dingin Crans-Montana, Kamis malam, sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang para korban yang tewas dalam kebakaran saat merayakan malam Tahun Baru.

Banyak pelayat berdiri terpaku, memandang ke arah lokasi kejadian. Percakapan terdengar lirih, bahkan sebagian memilih diam.

“Saya sendiri tidak berada di bar itu, tetapi banyak teman dan kerabat saya yang ada di sana,” ujar seorang pemuda yang hanya menyebutkan nama keluarganya, Orosstevic, kepada AFP.

“Sebagian meninggal, yang lain dirawat di rumah sakit. Sekitar 10 orang,” katanya.

“Mereka kebanyakan teman orang tua saya, tapi saya mengenal mereka dengan sangat baik.”

Orosstevic mengatakan dirinya membeli bunga untuk diletakkan “sebagai penghormatan kecil”.

“Semoga mereka beristirahat dengan tenang.”

Guncangan

Di sekitar lokasi, sejumlah teman saling berpelukan sambil terisak. Para pria berdiri menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca.

Mathys, warga Chermignon-d'en-Bas, mengatakan kepada AFP bahwa bar tersebut merupakan tempat berkumpul rutin bersama teman-temannya hampir setiap akhir pekan. “Kebetulan, akhir pekan itu adalah satu-satunya saat kami tidak datang ke sana.

“Kami mengira hanya kebakaran kecil. Tapi ketika tiba, suasananya seperti perang. Itu satu-satunya kata yang bisa saya gunakan: kiamat. Mengerikan.”

Paulo Martins, warga negara Prancis yang telah tinggal di kawasan itu selama 24 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa putranya hampir saja berada di dalam bar tersebut.

“Anak saya bisa saja ada di sana. Dia tidak jauh dari lokasi,” katanya.

“Ia bersama pacarnya, dan rencananya memang akan masuk. Namun akhirnya mereka tidak jadi,” ujarnya.

“Ketika pulang ke rumah, dia benar-benar syok.”

Seorang teman putranya yang berusia 17 tahun telah dipindahkan ke Jerman untuk perawatan, dengan luka bakar menutupi sekitar 30 persen tubuhnya.

Para pelayat meletakkan bunga dan lilin di atas meja darurat yang ditempatkan di pintu masuk jalan menuju bar, yang ditutup dengan layar putih.

Dua petugas polisi berjaga di area pembatas.

Aliran pelayat terus berdatangan membawa lilin dan bunga.

Ketika meja mulai penuh, sebagian orang menyalakan lilin satu per satu di atas tanah yang membeku.

Beberapa orang yang hadir nyaris tak mampu mengungkapkan perasaannya.

“Ada yang meninggal dan terluka, dan ada orang dekat kami yang masih hilang. Kami belum mendapat kabar apa pun,” ujar seorang perempuan yang menolak disebutkan namanya.

Setelah meletakkan bunga bersama temannya, mereka berjalan pergi sambil saling merangkul.

“Mereka masih muda, dan orang-orang yang kami kenal,” kata seorang perempuan lain yang juga enggan menyebutkan namanya.

Ketika ditanya apakah ia mengetahui nasib mereka, ia menjawab singkat, “Sebagian, tidak.”

Duka

Lampu-lampu Natal masih berkelap-kelip di kota itu, namun sejumlah bar tutup sebagai bentuk penghormatan.

Sebelumnya, misa juga digelar di Gereja Montana-Station untuk mengenang para korban.

“Banyak sekali orang yang datang. Suasananya sangat khidmat, dengan khotbah indah tentang harapan. Setidaknya, biarkan kami memiliki harapan,” kata Jean-Claude, jemaat setempat.

Seorang pemuda yang nyaris tak mampu berbicara karena emosi mengatakan, “Kami mengenal banyak teman dari teman-teman yang ada di sana. Kami datang untuk memberikan penghormatan.”

Seorang pelayat bernama Mina mengatakan putranya kerap mengunjungi bar yang populer tersebut.

“Tadi malam, kebetulan saja dia tidak berada di sana,” ujarnya kepada AFP.

“Ada seorang pelayan yang dia kenal baik, yang sering melayaninya. Mereka akrab, dan sayangnya, perempuan itu meninggal.”

Veronica, warga Italia lanjut usia yang telah tinggal di Crans-Montana selama 40 tahun, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Derita orang lain adalah derita kita semua,” katanya.

TerkaitTRT Indonesia - Perayaan malam Tahun Baru di Eropa diwarnai insiden mematikan
SUMBER:AFP