Perusahaan tambang Prancis Eramet mengumumkan bahwa usaha patungan tambang nikelnya di Indonesia, PT Weda Bay Nickel, memperoleh kuota produksi awal sebesar 12 juta ton basah (wet metric tons) untuk tahun ini.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan alokasi awal yang diterima perusahaan untuk 2025, yakni 32 juta ton.
Dalam pernyataannya, Eramet menyebut pihaknya akan segera mengajukan permohonan penyesuaian agar volume produksi dapat dinaikkan. Perusahaan itu juga mengingatkan bahwa kuota produksi 2025 sebelumnya telah direvisi naik pada Juli lalu menjadi 42 juta ton basah.
Kebijakan kuota produksi nikel Indonesia yang dikenal sebagai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih berada dalam proses pembahasan pemerintah.
Media lokal melaporkan, mengutip pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno, bahwa total kuota penambangan nikel yang disetujui untuk 2026 sejauh ini berkisar antara 260 juta hingga 270 juta ton metrik.
Seorang juru bicara Kementerian ESDM mengatakan kepada Reuters bahwa seluruh RKAB masih dalam tahap evaluasi, termasuk kemungkinan penyesuaian terhadap produksi sejumlah komoditas mineral dan batu bara.
Di pasar global, harga nikel menunjukkan penguatan seiring kabar tersebut.
Kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange naik 2,2 persen menjadi US$17.880 per ton metrik pada pukul 09.12 GMT. Sebelumnya, harga sempat menguat hingga 2,8 persen ke level US$17.980 per ton, yang merupakan posisi tertinggi sejak 30 Januari.








