Tak ada yang lebih nikmat daripada segelas teh Persia hangat setelah sepiring chelow kebab yang kaya rasa. Uapnya mengepul dari gelas ramping di depan saya, memantulkan warna kuning keemasan di bawah cahaya temaram salah satu rumah teh tradisional terakhir di Tehran, Azari Teahouse.
Menemukan tempat ini tidak mudah. Berbeda dengan dua dekade lalu, rumah teh kini semakin langka. Kini, seperti kata pepatah Persia, “selama matamu masih bisa melihat, kamu akan menemukan kafe.”
Bagi negeri yang lekat dengan budaya chai, perubahan ini bukan sekadar mencolok, tapi juga mengkhawatirkan bagi para pemilik rumah teh seperti Hadi Azari, pengelola Azari Teahouse.
“Dulu, satu jalan bisa punya beberapa rumah teh,” ujar Azari. “Orang datang tiga kali sehari untuk berbincang. Sekarang, rasanya seperti saya mengelola museum.”
Azari dan saudara-saudaranya mewarisi rumah teh ini dari ayah mereka. Ia mengatakan, keluarganya telah menjalankan tempat ini selama delapan dekade.
Di balik meja kayu, deretan samovar kuningan mengepulkan uap perlahan. Di bangku-bangku kayu, para pria lanjut usia berbincang sambil menyesap chai dan menghisap ghelyoon — pipa air khas Persia. Pemandangan seperti ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial Iran.
Meski Azari Teahouse masih ramai, pengunjung kini datang dari berbagai daerah, tak seperti dulu ketika setiap lingkungan memiliki rumah tehnya sendiri karena tingginya permintaan.
Untuk bertahan, keluarga Azari mengembangkan usahanya menjadi rumah teh sekaligus restoran tradisional, menyajikan hidangan klasik Persia seperti semur Dizi di waktu makan siang.
Saat saya menyesap isi gelas kedua, saya bertanya kepada Azari mengapa ia tak menambahkan kopi ke dalam menu untuk mengikuti tren yang sedang naik di Iran.
“Kami tak bisa lepas dari teh. Itu bagian dari identitas kami,” ujarnya. “Kalau rumah teh yang tersisa ikut beralih ke kopi, budaya kami bisa hilang.”
Azari khawatir peningkatan jumlah kedai kopi “tanpa kendali” justru menjauhkan orang Iran dari akar tradisi mereka.
Keluar dari rumah tehnya, perubahan itu terlihat jelas. Semakin ke utara Tehran — ke wilayah yang lebih makmur — kafe semakin padat. Trotoar dipenuhi kafe bergaya modern dengan lampu neon dan interior minimalis. Tak ada lagi samovar mendesis, melainkan mesin espresso yang berderu dan barista yang menyiapkan latte berlapis sempurna.
Melepaskan diri dari tradisi
Di Jalan Fereshteh, kawasan elit Tehran, kafe-kafe ramai dipadati anak muda. Di salah satu kafe kecil, saya bertemu Ali Zafari, pendiri Iran Coffee School dan wakil ketua Serikat Kedai Kopi Tehran. Suara obrolan lembut dan denting cangkir menjadi latar sempurna untuk percakapan kami.
“Kita tak bisa mengabaikan fenomena sosial ini,” kata Zafari sambil menunjuk meja-meja yang penuh.
Anak-anak muda duduk berkelompok, mengobrol sambil menikmati latte di bawah pencahayaan lembut yang menonjolkan dekorasi. Aroma kopi panggang memenuhi udara. Tak ada kemiripan dengan rumah teh tradisional — bahkan musik Persia klasik digantikan lagu-lagu indie, dan setiap sudut tampak siap difoto untuk media sosial.
Generasi muda, kata Zafari, bukan menolak tradisi, tetapi mencoba mendefinisikannya ulang. “Anak muda Iran bosan dengan ruang yang terasa mengekang — secara sosial, budaya, maupun arsitektur.”
Kejenuhan ini, menurut para ahli, terbentuk selama berabad-abad oleh tradisi yang didominasi laki-laki. Kini, ruang sosial yang lebih inklusif bagi perempuan semakin tumbuh.
“Rumah teh dulu cenderung jadi ruang laki-laki, membuat perempuan kurang nyaman. Sementara kafe menawarkan ruang campuran, dengan musik dan desain modern — tempat di mana anak muda, baik pria maupun wanita, bisa belajar, bekerja, bersosialisasi, dan merasa menjadi bagian dari budaya global.”
Selain faktor budaya, ekonomi juga berperan besar. Ritme hidup Tehran yang cepat, dengan perjalanan jauh dan jam kerja panjang, membuat kopi menjadi kebutuhan fungsional.
“Kopi kini menjadi bagian dari rutinitas harian masyarakat modern Iran,” jelas Zafari. “Bagi mereka yang bekerja 12 jam sehari atau lebih, ini bukan kemewahan, tapi bahan bakar untuk bertahan.”
Krisis ekonomi yang terus melanda akibat sanksi dan depresiasi mata uang telah memaksa banyak orang bekerja di dua hingga tiga pekerjaan sekaligus. Dalam situasi seperti itu, kopi — yang cepat disajikan dan memberi energi instan — menjadi pilihan utama bagi generasi pekerja keras.
Menyusup ke rumah-rumah
Minuman cokelat pekat itu kini tak lagi terbatas di kafe. Kopi mulai hadir di dapur-dapur rumah tangga Iran. Mesin espresso kini berdampingan dengan samovar.
“Sepuluh tahun lalu, jarang ada rumah yang punya mesin espresso,” ujar Zafari. “Sekarang, banyak keluarga menyimpannya di dapur.”
Dulu dianggap kemewahan urban, kini kopi mudah dijumpai di mana-mana. Kios pinggir jalan melayani pengemudi dengan espresso shot, dan bahkan di desa terpencil pun kopi segar bisa ditemukan, berkat mesin espresso portabel yang sedang digemari.
“Kopi bukan lagi tren kota. Ia menjadi kebiasaan nasional. Selera masyarakat berubah,” kata Zafari.
Data resmi menunjukkan, Iran mengimpor sekitar 50.000 ton kopi hijau pada 2025 — naik 52 persen dari 33.000 ton pada 2020. Konsumsi per kapita memang masih rendah, sekitar 600 gram per tahun, jauh di bawah Türkiye dan Eropa, namun trennya menanjak cepat dan diperkirakan meningkat 30 persen hingga 2028.
Permintaan yang terus tumbuh ini membuka peluang bisnis baru.
Budaya kopi telah melahirkan berbagai model usaha kreatif. Truk kopi keliling mudah ditemui, dipadati pelanggan yang mencari momen singkat namun berkualitas. Muncul juga kafe bertema buku, gaming cafe, hingga barber cafe yang menyasar anak muda.
Zafari menyebut industri kopi kini menghasilkan hampir US$1 miliar per tahun di Iran, menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung — dari importir, pemanggang, penjual peralatan, hingga barista terlatih.
“Perkembangannya mendorong munculnya rumah panggang lokal dan merek kopi buatan Iran yang kini melirik pasar regional dan internasional,” tambahnya.
Teh: tradisi abadi
Meski kopi tengah naik daun, teh tetap menjadi minuman utama Iran — meski secara historis, kopi justru datang lebih dulu.
Para peziarah yang pulang dari Mekah memperkenalkannya pada era Safawi abad ke-16. Meski rasanya pahit, kopi dulu digemari karena efeknya yang menyegarkan dan suasana sosial yang tercipta di sekitarnya.
Namun pada akhir abad ke-19, teh mulai menggantikan kopi. Di bawah Dinasti Qajar, impor teh dari China mengalir lewat Jalur Sutra.
Lebih penting lagi, orang Iran menemukan bahwa teh bisa ditanam di lereng subur dan lembap di wilayah utara negara itu. Murah, mudah diakses, dan cocok untuk kehidupan sehari-hari, teh pun menjadi minuman khas Iran.
Dalam satu generasi, teh menjadi simbol keramahan — disajikan di setiap rumah, dan menjadi denyut nadi rumah teh di seluruh negeri.
“Teh sudah menjadi bagian hidup kami,” kata Azari. “Diminum saat merayakan, berduka, atau sekadar berkumpul.”
Menariknya, istilah “rumah teh” sendiri dulunya dikenal sebagai “rumah kopi.” Kini, sejarah seolah berputar. Kopi kembali merebut tempat lamanya — namun dalam bentuk yang lebih modern dan terbuka bagi semua kalangan.
“Kalau rumah teh mau menarik generasi baru, mereka perlu berinovasi lewat menu, desain, dan ruang yang lebih terbuka,” ujar Azari. “Kopi memang tumbuh pesat, tapi teh akan selalu punya tempat istimewa sebagai tanaman lokal yang menyatu dengan budaya kami. Kuncinya adalah menyeimbangkan keduanya — agar tradisi dan modernitas bisa hidup berdampingan.”


















