ASIA
2 menit membaca
Anak SD 10 tahun di Ngada, NTT, diduga bunuh diri karena tak mampu beli buku dan pena
Tragedi kemanusiaan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa SD berusia 10 tahun diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah.
Anak SD 10 tahun di Ngada, NTT, diduga bunuh diri karena tak mampu beli buku dan pena
'Mama, saya minta buku dan pena'. Foto: X/@mariastelacn / TRT Indonesia

Seorang anak laki-laki berinisial YBS, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia dan diduga bunuh diri akibat tekanan ekonomi yang dialami keluarganya.

Peristiwa memilukan itu diduga berawal dari permintaan korban kepada ibunya, MGT (47), untuk dibelikan buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10.000. Namun sang ibu, yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, mengaku tidak memiliki uang untuk memenuhi permintaan tersebut.

Tinggalkan surat untuk sang ibu

Sebelum meninggal, YBS sempat meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibunya, Mama Reti. Surat berbahasa sederhana itu berisi pesan perpisahan dan permintaan agar sang ibu merelakan kepergiannya.

Dalam surat tersebut, YBS menulis antara lain, “Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.”

Surat tersebut ditemukan setelah peristiwa terjadi dan memperkuat dugaan bahwa korban mengalami tekanan berat akibat kondisi ekonomi keluarganya.

YBS diketahui berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Sang ibu, MGT (47), merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak.

Sorotan soal kemiskinan dan perlindungan anak

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan kemiskinan ekstrem dan keterbatasan akses anak terhadap hak dasar pendidikan. Hak atas pendidikan dan perlindungan anak sejatinya dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 dan 34.

Pengamat politik Rocky Gerung turut menanggapi kasus tersebut. Ia menilai tragedi ini menunjukkan ironi besar, ketika cita-cita kebangsaan berbenturan dengan kenyataan seorang anak yang putus asa karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah.

Kasus ini menjadi peringatan serius mengenai kondisi anak-anak dari keluarga rentan di daerah terpencil, sekaligus menegaskan pentingnya kehadiran dan peran aktif negara dalam memastikan perlindungan serta pemenuhan hak dasar anak.

TerkaitTRT Indonesia - Prabowo targetkan kemiskinan ekstrem nol persen pada 2026
SUMBER:TRT Indonesia
Jelajahi
Militer Myanmar mengklaim telah merebut kembali kota perbatasan Thailand
Prabowo sumbangkan 34 ekor sapi untuk Kurban Idul Adha 2026 di Sumatera Utara
Pemerintah siapkan intervensi Rp2 triliun per hari di pasar obligasi untuk stabilkan rupiah
IHSG melemah, Menkeu Purbaya tekankan kondisi pasar terkendali
Pemerintah RI akan naikkan anggaran pertahanan 2027, Prabowo berjanji untuk terus perkuat militer
Pemerintah tetapkan Idul Adha 2026 jatuh pada 27 Mei setelah Sidang Isbat nasional
Prabowo serahkan Rafale dan sistem alutsista ke TNI, Indonesia perkuat pertahanan udara
Pertamina siagakan dua supertanker untuk jaga pasokan LPG nasional
Menkomdigi: 200 ribu anak terpapar judi online di Indonesia, 80 ribu diantaranya dibawah 10 tahun
Indonesia dorong kerja sama ASEAN hadapi perdagangan ilegal limbah
Perempuan Rohingya hadapi peningkatan kekerasan seksual di bawah Arakan Army Myanmar
Indonesia kaji ulang bebas visa ASEAN usai penggerebekan markas judi online di Jakarta
7 WNI tewas dalam kecelakaan kapal di perairan Malaysia, 7 masih hilang
Prabowo saksikan penyelamatan kekayaan negara Rp10,27 triliun dan 2,37 juta hektare kawasan hutan
Eks Mendikbud Nadiem dituntut 18 tahun penjara atas kasus pengadaan Chromebook
Satgas Kehutanan tangkap 7 WNA China terkait penambangan emas ilegal di Papua Tengah
Antisipasi Hantavirus: Pemerintah RI siagakan 51 balai karantina, perketat skrining kedatangan
Menkeu Purbaya targetkan ekonomi RI tumbuh di atas 5,5 persen hingga kuartal IV
14 WNI hilang usai kapal migran tenggelam di Perairan Malaysia
Banjir melanda delapan wilayah di Sulawesi Tenggara, 8.616 warga terdampak