UEA tengah mempertimbangkan serangan finansial besar terhadap Iran setelah lebih dari 1.000 drone dan rudal diluncurkan menuju wilayah Emirat.
Laporan media menyebut para pejabat di Abu Dhabi sedang mengkaji kemungkinan membekukan aset Iran senilai miliaran dolar.
UEA juga berencana menargetkan perusahaan bayangan dan jaringan penukaran mata uang milik Teheran yang selama ini membantu Iran bertahan dalam sistem perdagangan internasional yang dipenuhi sanksi.
Iran mengeklaim bahwa pasukan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di kawasan untuk melancarkan serangan terhadap negaranya, sehingga fasilitas tersebut dianggap sebagai “target sah” untuk aksi balasan.
Jika aset Iran dibekukan di UEA, langkah tersebut akan secara signifikan menghambat kemampuan Teheran mengakses mata uang asing dan jaringan perdagangan global.
Dampaknya diperkirakan berat bagi perekonomian Iran, yang bahkan sebelum gelombang terbaru serangan Amerika Serikat dan Israel sudah berada di bawah tekanan besar.
Selama bertahun-tahun, negara-negara Teluk berupaya menjalin hubungan ekonomi dengan Iran dengan harapan dapat meredakan ketegangan regional.
Namun, eskalasi terbaru tampaknya mengubah perhitungan tersebut, kata para analis.
“Strategi negara-negara Teluk terhadap Iran dalam satu dekade terakhir berubah menjadi pendekatan keterlibatan ekonomi, dengan harapan meningkatkan pengaruh untuk menurunkan ketegangan dan risiko konflik,” kata Timothy Ash, associate fellow di Chatham House, kepada TRT World.
UEA secara implisit selama ini membiarkan sejumlah bisnis dan individu Iran beroperasi secara tidak resmi, jauh dari sorotan sanksi yang dijatuhkan kementerian keuangan negara-negara Barat.
Iran menggunakan perusahaan cangkang yang terdaftar di zona perdagangan bebas Dubai untuk menyamarkan asal minyaknya.
Teheran juga menghindari sanksi Barat dengan mengirim minyak—sebagian besar ke Beijing—menggunakan “dark-fleet tankers” dan menerima pembayaran dalam yuan melalui bank-bank China tingkat kedua.
Namun Ash menilai pendekatan keterlibatan ekonomi UEA terhadap Iran justru berbalik menjadi bumerang.
“Dengan serangan pendahuluan yang meningkat melalui berbagai tingkat eskalasi dan kemudian balasan dari Iran terhadap negara-negara Teluk, strategi itu telah gagal,” ujarnya.
Iran kini melihat konflik ini sebagai persoalan eksistensial, yang mendorong respons agresif dari Teheran.
“Bagi Iran, perang ini bisa dibilang soal bertahan hidup. Karena itu mereka menyerang di mana pun memungkinkan,” kata Ash.
Rencana pembekuan aset terkait Iran oleh UEA juga dinilai mencerminkan langkah yang sebelumnya dilakukan negara-negara Barat terhadap Rusia.
Amerika Serikat dan kekuatan Eropa membekukan cadangan bank sentral Rusia, yang secara efektif memotong sumber pendanaan perang Moskow.
Menyoroti perbedaan pendekatan tersebut, Ash mengatakan negara-negara Teluk sebelumnya mengkritik Barat karena membekukan aset Bank Sentral Rusia untuk menekan Moskow agar menghentikan perang di Ukraina.
Kini, kata dia, mereka justru mempertimbangkan langkah serupa terhadap Iran.
Besarnya aset Iran
Skala aset Iran di UEA disebut sangat besar, menurut para analis.
Tidak ada angka resmi yang tersedia, namun perkiraannya sangat tinggi, kata Radosław Fiedler, profesor di Adam Mickiewicz University di Polandia.
“Jumlahnya bisa mencapai 20 hingga 50 miliar dolar AS atau bahkan lebih,” ujarnya kepada TRT World.
Angka tersebut mencakup perdagangan yang terkait Iran, properti, emas, serta rekening perusahaan.
Perdagangan bilateral antara UEA dan Iran juga menggambarkan besarnya hubungan ekonomi kedua negara.
Nilai perdagangan tahunan UEA-Iran mencapai sekitar 27 miliar dolar AS, dengan ekspor Emirat ke Teheran mencapai sekitar 22 miliar dolar AS.
Fiedler mengatakan angka itu meningkat empat kali lipat sejak 2018, ketika Amerika Serikat keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), perjanjian nuklir yang ditandatangani Iran dengan enam kekuatan dunia untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Laporan media menyebut ada “miliaran dolar” aset Iran di UEA yang berpotensi dibekukan—sesuatu yang menurut Fiedler hampir pasti merupakan gambaran yang masih konservatif dari jejak ekonomi yang jauh lebih besar.
Selama ini, UEA telah lama menjadi gerbang Iran menuju dunia internasional. Entitas yang terkait dengan Iran menjalankan bisnis melalui “ratusan perusahaan cangkang” di negara itu untuk menjual minyak, petrokimia, dan komoditas lain ke pembeli global.
“Jaringan hawala informal dan penukaran mata uang memindahkan dolar bagi entitas Iran sepenuhnya di luar sistem perbankan formal, sehingga menghindari pembatasan global yang melarang Iran mengakses perbankan koresponden internasional,” jelasnya.
Hawala sendiri merupakan jaringan perantara yang menyelesaikan transaksi utang lintas negara di luar jalur perbankan tradisional tanpa memindahkan uang tunai secara fisik.
Dampak dari jaringan perusahaan yang kompleks tersebut sangat besar.
“Jika minyak mentah dikeluarkan dari perhitungan, perdagangan bilateral Iran dengan UEA hampir setara dengan China—hasil yang luar biasa bagi negara yang berada di bawah sanksi tekanan maksimum,” kata Fiedler.
UEA selama ini membiarkan praktik tersebut demi kepentingannya sendiri, dengan Abu Dhabi berusaha menyeimbangkan aliansi militernya dengan Amerika Serikat dan hubungannya dengan Iran.
Komunitas diaspora Iran yang besar—sekitar 400.000 orang—menjadi bagian penting dari tenaga kerja di UEA, sementara modal dari Iran turut menggerakkan pasar properti Emirat.
Fiedler menyebut pendekatan ini sebagai strategi multi-vektor.
“Para pembuat kebijakan di UEA selama ini memperhitungkan bahwa akomodasi ekonomi dapat mengurangi kemungkinan aksi militer Iran terhadap infrastruktur Emirat,” katanya.
Namun serangan terhadap bandara Dubai dan beberapa lokasi lain sejak awal perang Iran telah mengubah perhitungan tersebut.
Karena itu, tindakan keras finansial terhadap bisnis yang terkait Iran juga dapat membuka risiko baru bagi UEA.
Pembekuan aset berpotensi memicu serangan lanjutan Iran terhadap infrastruktur penting seperti pelabuhan dan kilang minyak, kata para analis.
Pasar properti UEA juga bisa mengalami perlambatan, sementara citranya sebagai destinasi netral bagi investasi dan pariwisata global turut dipertaruhkan.
“Ironi yang lebih dalam adalah bahwa hubungan keuangan bayangan antara UEA dan Iran selama ini ditoleransi justru karena menguntungkan dan menstabilkan,” kata Fiedler.
“Kini hubungan itu justru berisiko menjadi beban strategis di kedua sisi sekaligus.”












