Tim penyelamat pada Jumat melanjutkan upaya pencarian terhadap puluhan orang yang diduga masih tertimbun di bawah tumpukan sampah yang runtuh di sebuah tempat pembuangan akhir di wilayah tengah Filipina. Insiden ini dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang.
Puluhan petugas kebersihan tertimbun ketika gunungan sampah setinggi gedung itu roboh pada Kamis di TPA Binaliw, sebuah fasilitas pengolahan sampah yang dikelola swasta di Kota Cebu.
“Kalau dilihat, tingginya bisa setara bangunan empat lantai,” ujar Jason Morata, pejabat asisten informasi publik Kota Cebu, menggambarkan besarnya tumpukan sampah tersebut.
Sedikitnya 12 pekerja berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup dari timbunan sampah dan langsung dilarikan ke rumah sakit, menurut pernyataan yang disampaikan melalui akun Facebook resmi Wali Kota Cebu, Nestor Archival.
Ia mengatakan seluruh personel penyelamat saat ini “dikerahkan penuh untuk melakukan pencarian dan evakuasi guna menemukan korban yang masih dinyatakan hilang”.
Foto udara yang dirilis kepolisian memperlihatkan sejumlah bangunan di area TPA tampak hancur setelah tertimpa beban sampah.
Morata menjelaskan bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai kantor perusahaan, termasuk bagian sumber daya manusia, administrasi, serta area kerja staf pemeliharaan milik perusahaan swasta pengelola lokasi itu.
“Kami sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Perlu diingat, Cebu sempat dilanda dua topan pada paruh akhir 2025, dan juga mengalami gempa bumi,” kata Morata.
Ia menambahkan, proses pengumpulan informasi berjalan lambat karena tidak adanya sinyal komunikasi di area tempat pembuangan akhir tersebut.
Berdasarkan keterangan di situs web operatornya, Prime Integrated Waste Solutions, TPA Binaliw memproses sekitar 1.000 ton sampah perkotaan setiap hari.
Namun hingga Jumat, pihak perusahaan belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi.
“Kami belum mengetahui penyebab runtuhnya tumpukan sampah ini. Saat kejadian, cuaca tidak hujan sama sekali,” kata Marge Parcotello, staf sipil kepolisian di Consolacion, kota yang berbatasan langsung dengan lokasi TPA.
Ia menambahkan, banyak korban dalam insiden ini berasal dari wilayah Consolacion.
Filipina pernah mengalami tragedi serupa pada Juli 2000, ketika lebih dari 200 orang tewas akibat longsoran sampah yang menimbun sebuah kawasan padat penduduk di Manila yang dihuni ribuan pemulung.
Peristiwa tersebut tercatat sebagai bencana longsoran sampah terburuk dalam sejarah Filipina dan memicu kemarahan publik terhadap praktik tempat pembuangan sampah terbuka. Beberapa bulan setelahnya, pemerintah setempat mengesahkan undang-undang untuk memperketat pengelolaan limbah.














