Shutdown pemerintah AS: Pekerja dirumahkan, layanan terhenti, warga merasakan dampaknya
POLITIK
3 menit membaca
Shutdown pemerintah AS: Pekerja dirumahkan, layanan terhenti, warga merasakan dampaknyaShutdown pemerintah AS membuat ribuan pekerja dirumahkan, layanan publik terhenti, program tertunda, dan Washington terasa lebih sunyi dari biasanya.
Gedung Capitol AS tampak hampir kosong pada hari Rabu di tengah hari pertama penutupan pemerintah. (Sadiq Bhat) / TRT World

Washington, DC — Kubah Capitol tampak pucat di bawah cahaya Oktober, dengan koridor yang lebih sepi dari biasanya. Riuh langkah staf, suara turis, hingga derap sepatu pegawai terdengar jauh lebih jarang.

Seorang staf muda Kongres, menggenggam secangkir kopi dan ponsel, melangkah cepat melewati kerumunan kamera di luar gedung Kongres pada Rabu sore.

Sejak tengah malam, sejumlah layanan yang diandalkan warga Amerika terganggu, dan banyak fungsi pemerintahan federal lumpuh. Kebuntuan sengit antara Presiden AS Donald Trump dan Partai Demokrat di Kongres terkait anggaran memicu shutdown pemerintah untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh tahun.

TRT World mencoba berbicara dengan seorang pekerja yang dirumahkan di luar Museum Smithsonian. Ia hanya menggeleng, menyebut dirinya bekerja di sana, lalu berbalik tanpa komentar. Diamnya terasa lebih berat dari kata-kata. Pekerja lain berbisik, “Saya disuruh menunggu di rumah. Tapi tagihan tidak bisa menunggu.”

Di antara layanan lain, bantuan bagi veteran yang kembali ke kehidupan sipil dihentikan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunda komunikasi kesehatan publik.

Beberapa pengumpulan data dan analisis ekonomi, termasuk laporan ketenagakerjaan yang seharusnya dirilis Jumat, juga tertunda. Sebagian besar litigasi sipil di Departemen Kehakiman dihentikan. Tak ada hibah pendidikan baru yang dikeluarkan.

Daftarnya panjang.

Pemerintahan terhenti

Shutdown pemerintah bukanlah tontonan. Ia adalah keheningan. Sebuah mesin besar yang berhenti, dengan bagian-bagiannya tergantung di udara.

Sementara layanan krusial seperti keamanan nasional, pengendalian lalu lintas udara, dan pembayaran jaminan sosial tetap berjalan, sisanya — taman, lembaga, laporan, kantor, dan lainnya — membeku. Sekitar 750 ribu pekerja federal berpotensi dirumahkan.

Di sepanjang National Mall (taman luas di dekat pusat Washington, DC), turis tetap berjalan. Rombongan pelajar berceloteh, pemandu mereka bersuara lantang, menunjuk ke monumen, menyebutkan tanggal-tanggal sejarah.

Bagi pengunjung biasa, seolah tak ada yang salah. Keretakan itu tersembunyi dalam tumpukan dokumen, gaji yang tertunda, dan proyek yang berhenti.

“Kami sudah merencanakan perjalanan ini berbulan-bulan,” kata seorang turis dari luar negara bagian sambil memotret di dekat Capitol. “Aneh rasanya melihat semua keindahan ini, tapi mendengar pemerintah bahkan tidak bekerja.”

Seorang anggota rombongan menimpali: “Jadi taman ditutup, tapi kami masih bisa berjalan-jalan? Tidak masuk akal.”

Pemerintah federal AS resmi memasuki shutdown sejak tengah malam 1 Oktober 2025, setelah Kongres gagal meloloskan rancangan anggaran di tengah perpecahan tajam antara Demokrat dan Republik, dengan saling menyalahkan soal negosiasi yang mandek.

'Tidak ada yang memberi tahu kami'

Meski beberapa fungsi masih berjalan, banyak roda pemerintahan sehari-hari berhenti. Pertarungan hanya soal angka di kertas, tapi bayangannya jatuh ke kehidupan biasa.

Di tangga Capitol, seorang perempuan berjas merah berhenti, mengambil foto di depan pilar marmer. Para jurnalis menengok sebentar, lalu kembali ke ponsel mereka, menggulir pernyataan, kabar terbaru, dan potongan informasi.

Tak jauh, seorang polisi Capitol bergeser di posnya, memperhatikan kerumunan kamera dan turis.

Shutdown tidak banyak mengubah tugas kami,” katanya kepada TRT World. “Kami tetap berdiri di sini, mengawasi keadaan.” Polisi lain mengangkat bahu saat ditanya berapa lama ini akan berlangsung. “Bisa beberapa hari. Bisa berminggu-minggu. Tidak ada yang memberi tahu kami apa-apa.”

Menjelang sore, udara semakin dingin. Kubah Capitol berkilau di langit Oktober. Namun di dalam, suasana tetap tebal, hampir tanpa napas.

Pada Rabu, Senat AS menggelar dua pemungutan suara terkait rancangan anggaran yang sama dengan hari Selasa. Keduanya gagal, membuat shutdown pemerintah terus berlanjut.

Sementara itu, Washington menjalaninya dengan diam. Monumennya tetap kokoh, politiknya tetap kaku, dan warga Amerika melanjutkan hidup dalam bayang-bayang mesin pemerintahan yang tersendat.

SUMBER:TRT World
Jelajahi
Kasus korupsi Chromebook, eks Mendikbudristek Nadiem Makarim jalani sidang putusan hari ini
Kesepakatan yang diperdebatkan: di mana AS dan Iran berselisih
AS menghadapi ujian dalam menyeimbangkan diplomasi Iran dan kebijakan Israel
Mengapa rekam jejak Modi sebagai PM India terlama tercoreng oleh agenda anti-Muslim Hindutva-nya
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier tiba di Jakarta untuk kunjungan kenegaraan
Mahasiswa UI bawa lima tuntutan dalam aksi di Bundaran HI
Pesan nuklir Rusia: Ancaman, penghalang, atau tanda kelemahan?
Prabowo tegaskan politik bebas aktif di tengah kritik kunjungan luar negeri
Prabowo lantik kepala dan wakil kepala BGN, tunjuk Said Iqbal jadi penasihat khusus presiden
Presiden Korea Selatan tunjuk Han Seong-sook sebagai calon perdana menteri baru
Menko Polkam: Presiden tak beri perlakuan khusus bagi pelaku korupsi
RUU P2SK disepakati, BI bakal ikut fokus dorong sektor riil dan penciptaan kerja
Presiden Prabowo terima Menlu Türkiye Hakan Fidan, bahas Palestina hingga stabilitas Timur Tengah
Dicopot dari kepala BGN, posisi Dadan Hindayana digantikan Nanik S Deyang
Lima kali Trump menegur Netanyahu — dan apa yang terjadi kemudian
Menlu Türkiye Hakan Fidan tiba di Indonesia untuk perkuat kerja sama perdagangan dan pertahanan
Mengapa kebijakan Jerman terhadap China memecah Eropa dan melemahkan ekonominya sendiri
Presiden Prabowo terima kunjungan Wakil Perdana Menteri Qatar, bahas penguatan kerja sama bilateral
Pengadilan Thailand bebaskan tokoh politik progresif dari tuduhan pencemaran nama baik kerajaan
Bagaimana visi Turkik milik Erdogan membentuk ulang kawasan Eurasia