Harga minyak sawit diperkirakan berada di bawah tekanan dalam waktu dekat setelah Indonesia menunda rencana perluasan mandatori biodiesel, sementara produksi di Asia Tenggara diproyeksikan meningkat. Para analis menilai permintaan yang tetap kuat dapat menahan penurunan harga lebih dalam.
Mengutip laporan Reuters pada Rabu (11/2), para analis yang berbicara dalam konferensi industri di Kuala Lumpur menyebut produksi minyak sawit Asia Tenggara—yang memasok hampir 90% pasar global—diperkirakan hanya naik tipis pada 2026.
Kenaikan ini didorong perbaikan cuaca di Indonesia, sementara produksi Malaysia diproyeksikan menurun.
“Kita saat ini berada pada periode produksi paling rendah, tetapi penurunan stok tidak signifikan,” kata analis Dorab Mistry.
Ia memperkirakan harga kontrak berjangka minyak sawit Malaysia akan bergerak di kisaran 3.800 hingga 4.300 ringgit per ton hingga Juli 2026, jika tidak ada gangguan cuaca baru.
Pada penutupan perdagangan Rabu, kontrak acuan minyak sawit Malaysia turun 35 ringgit atau 0,85% menjadi 4.060 ringgit per ton.
Tekanan jangka pendek masih berpotensi berlanjut. “Masih ada potensi penurunan harga dalam satu atau dua bulan ke depan,” ujar Thomas Mielke, direktur eksekutif Oil World yang berbasis di Hamburg, kepada Reuters.
Namun, ia menambahkan bahwa perlambatan pertumbuhan produksi dan prospek penurunan stok dapat menopang harga dalam jangka menengah.
Mielke memperkirakan konsumsi global minyak nabati pada musim 2025/2026 akan naik 7,1 juta ton, sementara produksi hanya bertambah 5,3 juta ton.
Produksi minyak sawit Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 48,8 juta ton, sedangkan Malaysia sekitar 19,7 juta ton.
Dari sisi permintaan, India sebagai importir minyak nabati terbesar dunia diperkirakan meningkatkan pembelian minyak sawit tahun ini seiring turunnya harga. Sebaliknya, permintaan China diperkirakan melemah pada 2026 karena pergeseran ke minyak nabati yang lebih murah seperti kanola dan kedelai.

“Di China, prospek 2026 tertekan oleh perluasan kapasitas penghancuran kedelai domestik dan ketersediaan minyak nabati alternatif,” kata Izzana Salleh, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Produksi Indonesia juga diperkirakan terdampak oleh operasi penegakan hukum terhadap perkebunan ilegal. Sejak tahun lalu, pemerintah menyita sekitar 4,1 juta hektare perkebunan sawit yang dianggap beroperasi di kawasan hutan.
Pemerintah Indonesia berencana memperluas operasi tersebut tahun ini dengan target tambahan penyitaan 4 juta hingga 5 juta hektare perkebunan sawit.
Meski demikian, Asosiasi Produsen Minyak Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi minyak sawit mentah Indonesia masih akan tumbuh 2% hingga 3% tahun ini, setelah naik 8% menjadi 51,98 juta ton pada 2025.
Menurut analis, langkah tersebut berpotensi menurunkan produktivitas akibat berkurangnya penggunaan pupuk. Impor pupuk tercatat turun hampir 20%, yang diperkirakan akan mempengaruhi hasil panen dan produksi.








