Apakah AS sedang bersiap “menghancurkan” ekonomi Rusia?
Amerika Serikat mungkin memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia. / TRT World
Apakah AS sedang bersiap “menghancurkan” ekonomi Rusia?
Ekonomi Rusia mungkin menghadapi ancaman karena Trump mendukung RUU Senator Lindsey Graham yang akan memberlakukan tarif hingga 500 persen pada impor minyak Rusia. Apakah langkah ini bisa menghentikan perang di Ukraina?

Presiden AS Donald Trump telah memberi otorisasi kepada Kongres untuk meloloskan RUU yang memberlakukan sanksi sekunder dan tarif terhadap negara-negara yang tetap membeli minyak dan gas Rusia.

Inisiatif ini digagas oleh Senator Republik Lindsey Graham, yang mendorong pengesahannya sejak musim semi lalu.

Ia sebelumnya menyatakan bahwa langkah ini akan memberi pukulan “menghancurkan” bagi ekonomi Rusia dan menghentikan pertumpahan darah di Ukraina.

Graham mengklaim mayoritas mutlak anggota kedua kamar Kongres mendukung RUU tersebut.

Di Rusia, kemungkinan pengesahan RUU ini dipandang “sangat negatif,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov: “Kita akan lihat bagaimana RUU ini berkembang, dan apa saja rinciannya yang akan dibahas.”

Saat ini, importir utama minyak dan gas Rusia adalah India dan China. Kedua negara menempuh sikap hati-hati menyusul sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil. Beberapa kilang besar di kedua negara bahkan menghentikan pasokan dari Rusia.

TerkaitTRT Indonesia - Ukraina menembakkan rudal ATACMS buatan AS ke Rusia di tengah pertempuran yang semakin intensif

Sejak perang di Ukraina dimulai, isu minyak dan gas Rusia menjadi salah satu masalah paling kompleks.

Di satu sisi, Kremlin bisa menggunakan pendapatan energi untuk mendukung operasi militer. Di sisi lain, sekutu dan mitra Ukraina belum sepenuhnya menolak pasokan ini.

Prancis, Spanyol, Belanda, dan Belgia adalah importir LNG Rusia terbesar di Uni Eropa. Hungaria dan Slovakia menerima minyak melalui cabang selatan pipa Druzhba.

Minyak juga dibeli melalui negara ketiga; misalnya India memproses minyak mentah lalu menjual produk olahannya ke Eropa.

Selain itu, Kremlin mengoperasikan “armada bayangan” yang menurut S&P mengangkut 80 persen minyak Rusia meski ada sanksi Barat.

Karena itu, meski klaim Senator Lindsey Graham terdengar keras, langkah ini mungkin tidak terlalu mengancam Rusia secara nyata dan bahkan kecil kemungkinan menghentikan perang di Ukraina. Ekonom Yaroslav Romanchuk membahas langkah mana yang benar-benar bisa membawa perdamaian.

TRT Russian: Seberapa efektif RUU ini?

Romanchuk: Hampir tidak ada harapan. Pengalaman 20–30 tahun terakhir—di Irak, Iran, Belarus setelah 2014, atau Rusia di bawah berbagai rezim pembatas—menunjukkan langkah seperti ini memiliki banyak celah.

Transaksi meningkat, rantai pasok berubah, perusahaan mencari cara baru, muncul perusahaan cangkang. Produsen dari Eropa, Amerika, dan Asia memanfaatkan ini karena semua mendapat keuntungan.

Beberapa perusahaan besar hengkang, tapi digantikan pihak lain, dari Kyrgyzstan, Georgia, dan lainnya. Ada perusahaan lepas pantai dan skema baru—pengacara pun ada untuk menyusunnya.

Perdagangan menjadi lebih sulit bagi Rusia, bisa sedikit menekan pertumbuhan ekonomi—misalnya 0,1 persen PDB—tapi tidak lebih dari itu.

TRT Russian: Mengapa sanksi tidak menghentikan perang?

Romanchuk: Negara memiliki tujuan berbeda. Beberapa tidak peduli dengan ratusan ribu korban atau kerugian miliaran. Ada negara yang tujuannya termasuk menetralkan Barat, dan ini tidak bisa diselesaikan dengan cara non-militer.

Tetapi Trump dan Uni Eropa belum menyadari hal sederhana ini.

TRT Russian: Tapi sanksi terhadap Lukoil dan Rosneft menunjukkan hasil, beberapa perusahaan India dan China menolak pasokan.

Romanchuk: Beberapa menolak, beberapa tidak. Lukoil bukan perusahaan independen; ini bagian dari departemen minyak Kremlin. Manajer mendapat uang, tapi begitu negara butuh, perusahaan diganti. Hal sama berlaku untuk Gazprom.

Kepemilikan saham tidak relevan bagi yang mengendalikan proses; fokus mereka adalah tujuan politik dan militer Kremlin.

TRT Russian: Jadi, RUU ini tidak akan mengubah banyak hal?

Romanchuk: Hanya sedikit demi sedikit. Semua langkah ini, termasuk sanksi Eropa, seperti menaruh pasir ke mesin yang berjalan—mesin tersendat sebentar.

Tapi selama empat tahun perang aktif ini, kita sudah “menaruh pasir” terus-menerus.

SUMBER:TRT World
Jelajahi
Menlu 12 negara kecam serangan Israel, desak penghormatan kedaulatan Suriah
Belanda buka konsulat kehormatan di Makassar, perluas kerja sama hingga permudah visa
Indonesia bantah tuduhan AS soal praktik transshipment, sebut berbasis asumsi
Menlu Sugiono kunjungi Australia dan Selandia Baru, perkuat diplomasi Asia-Pasifik
Dialog strategis perdana Indonesia-China akan fokus pada penguatan kemitraan ekonomi
Indonesia dan Jerman perkuat kemitraan ekonomi dan transisi energi
Peringati HUT Kemerdekaan RI di Ankara, Indonesia-Türkiye tegaskan kemitraan strategis
Gempa susulan M5,7 guncang Flores, SAR perluas evakuasi kelompok rentan
BNN gagalkan penyelundupan 2,6 ton sabu cair dari Malaysia di perairan Kepri
Perkuat ekspor kayu lestari, RI dan Uni Eropa pererat kemitraan dagang
Cincin Api Pasifik: Fakta penting tentang kawasan paling rawan gempa di dunia
Negara sahabat sampaikan ucapan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia
Palestina sampaikan duka dan solidaritas untuk Indonesia usai gempa mematikan di NTT
Rubio: AS bidik kemitraan mineral kritis dan keamanan maritim dengan Indonesia
Di parlemen Australia, PM Albanese tegaskan Indonesia adalah mitra utama terpenting
Türkiye sampaikan ucapan HUT ke-81 RI, tegaskan kedekatan sebagai ‘Saudara dan Sahabat’
Bantu tanggap gempa NTT, Uni Eropa tawarkan akses satelit Copernicus
Gempa dahsyat 7,7 magnitudo guncang Indonesia, Tim SAR bergerak cepat lakukan penyelamatan mendesak
Indonesia dukung aturan pemberitahuan awal uji rudal balistik jarak jauh
Aktivis serukan boikot Sephora setelah umumkan penjualan produk di Israel