Polusi udara memburuk di Malaysia dan Singapura setelah asap kebakaran dari wilayah Indonesia terbawa angin ke negara-negara tetangga. Kabut asap yang telah berlangsung lebih dari sebulan membuat kualitas udara di Kuala Lumpur dan Singapura berada pada level tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan IQAir, Kuala Lumpur tercatat sebagai kota besar dengan polusi udara tertinggi di dunia pada Rabu (30/9), dengan indeks kualitas udara atau AQI mencapai 166. Singapura berada di posisi ketiga dengan AQI 155.
Berdasarkan data IQAir pada Jumat (2/10) pukul 18.00 waktu setempat, kualitas udara di Singapura tercatat pada AQI 152 dan masuk kategori tidak sehat, dengan PM2.5 sebesar 56,5 mikrogram per meter kubik. Di Kuching, Malaysia, AQI mencapai 129 atau tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan PM2.5 sebesar 46,9 mikrogram per meter kubik.
AQI menggabungkan pengukuran berbagai polutan menjadi satu indikator untuk menggambarkan kondisi udara dan potensi risikonya bagi kesehatan. Nilai di atas 150 masuk kategori tidak sehat, sedangkan angka lebih dari 300 dikategorikan berbahaya.
Asap dari kebakaran di Pulau Kalimantan dan Sumatera terbawa angin menuju wilayah negara tetangga. Kabut putih pekat yang bertahan selama lebih dari sebulan juga mengurangi jarak pandang serta mengganggu aktivitas masyarakat di luar ruangan.
Di Singapura, Badan Lingkungan Nasional mencatat empat dari lima wilayah mengalami kualitas udara yang tidak sehat. Masyarakat, terutama mereka yang memiliki asma, rinitis alergi, dan gangguan pernapasan lainnya, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Kabut asap lintas batas merupakan persoalan yang berulang di Asia Tenggara. Namun, tahun ini dinilai lebih parah karena kondisi panas dan kering yang berkaitan dengan fenomena El Nino turut memperbesar risiko kebakaran di Indonesia.
Pembukaan lahan juga dikaitkan dengan kebakaran yang membuat api lebih sulit dikendalikan. Badan meteorologi Indonesia telah memperingatkan bahwa potensi kebakaran hutan masih tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat 15.461 titik api sepanjang September 2016, jumlah yang disebut lebih tinggi dibandingkan titik api yang tercatat selama kebakaran hutan besar pada 2019.
Kabut asap lintas batas menjadi persoalan rutin di kawasan tersebut setiap musim kemarau. Kondisi kering berkepanjangan serta kebakaran dalam skala besar tahun ini membuat polusi udara menyebar ke negara-negara di sekitarnya.




















