Selama beberapa dekade terakhir, Indo-Pasifik sering digambarkan sebagai sebuah teater geopolitik yang jauh, terutama dibentuk oleh rivalitas antara AS dan China.
Namun, dari perspektif Ankara, kawasan ini bukanlah sesuatu yang jauh atau bersifat teoretis.
Pertumbuhan kehadiran diplomatik, ekonomi, dan pertahanan Türkiye di Asia Selatan dan Asia Tenggara menunjukkan realitas yang sedang muncul. Türkiye dalam praktiknya sudah menjadi aktor Indo-Pasifik, meskipun belum mendefinisikan dirinya secara eksplisit sebagai demikian.
Keterlibatan yang tumbuh ini bukanlah hasil dari satu strategi besar atau doktrin formal. Sebaliknya, hal itu muncul secara organik melalui sebuah jaringan kompleks hubungan bilateral, kemitraan pertahanan, diversifikasi perdagangan, dan koneksi antarwarga, khususnya dengan Indonesia, Pakistan, dan Malaysia.
Secara kolektif, hubungan-hubungan ini menunjukkan ekspansi yang halus namun signifikan dari geografi strategis Türkiye, yang meluas dari Mediterania Timur hingga ke jantung kawasan maritim Asia Tenggara.
Seiring membesarnya kehadiran Türkiye di kawasan Indo-Pasifik, muncul peluang baru: pengembangan interpretasi yang berpusat pada Türkiye mengenai pentingnya kawasan bagi Ankara dan wilayah tersebut.
Sementara aktor besar seperti AS, Uni Eropa, Jepang, India, dan ASEAN sudah memiliki kerangka Indo-Pasifik masing-masing, definisi batasan yang jelas dari Türkiye akan memungkinkan negara itu menerjemahkan keterlibatan yang berkembang menjadi kejelasan strategis.

Daripada memulai dari nol, Türkiye berada pada posisi yang baik untuk membentuk narasinya sendiri tentang kawasan ini, yang didasarkan pada kemitraan yang ada, konektivitas, dan kemandirian strategis.
Hal itu akan memperkuat perannya sebagai aktor yang memiliki tujuan dan mampu mendefinisikan dirinya sendiri di kawasan.
Kekuatan yang tumbuh di Indo-Pasifik
Keterlibatan Türkiye dengan kawasan Indo-Pasifik paling baik dipahami sebagai perpanjangan dari Asia Anew Initiative, yang diluncurkan pada 2019 untuk menyesuaikan pendekatan Ankara terhadap lanskap ekonomi global yang berubah cepat.
Inisiatif ini tidak pernah dimaksudkan sebagai sebuah pivot regional yang sempit. Melainkan, dirancang sebagai pembukaan multidimensi yang mencakup diplomasi, perdagangan, logistik, investasi, ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, dan pertukaran budaya, dengan tujuan memperkuat kemandirian strategis Türkiye di dunia yang semakin multipolar.
Sejak itu, keterlibatan Türkiye dengan Asia semakin dalam baik dari segi jangkauan maupun substansi.
Kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Malaysia, Indonesia, dan Pakistan pada Februari 2025, yang menghasilkan 48 perjanjian bilateral, menjadi simbol momentum ini.
Perjanjian-perjanjian tersebut mencakup pertahanan, energi, keuangan, pendidikan, kesehatan, dan budaya, mencerminkan kerja sama yang terinstitusionalisasi bukan sekadar pendekatan simbolis.
Jika dilihat secara keseluruhan, hubungan Türkiye dengan Pakistan, Malaysia, dan Indonesia menunjukkan bagaimana kehadirannya di Indo-Pasifik berkembang melalui tindakan, bukan retorika.
Pakistan adalah jangkar barat Türkiye di kawasan Indo-Pasifik.
Hubungan yang lama ditandai oleh itikad politik ini telah memperoleh kedalaman strategis melalui kerja sama industri pertahanan.
Proyek Korvet MILGEM sering disebut sebagai contoh unggul kolaborasi angkatan laut Selatan–Selatan dan menunjukkan kapasitas Türkiye untuk transfer teknologi dan pembangunan kapal bersama.
Adopsi sistem udara tak berawak Turki oleh Pakistan semakin memperkuat jalur modernisasi militernya bersama Türkiye. Para analis semakin menunjuk Pakistan sebagai calon mitra masa depan dalam program jet generasi kelima KAAN Türkiye, terutama mengingat akuisisi signifikan oleh Indonesia.
Di luar pertahanan, keterlibatan Pakistan dalam China–Pakistan Economic Corridor dapat memberi Türkiye akses logistik dan strategis tidak langsung ke Samudra Hindia, yang sering luput dari perhatian dalam diskusi tentang kehadiran Ankara di Indo-Pasifik.
Malaysia menambahkan dimensi ideologis dan ekonomi pada busur yang sedang muncul ini.

Sinergi politik antara Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mencerminkan penekanan bersama pada multipolaritas, keadilan global, dan kemandirian strategis, sebuah keselarasan yang banyak dibahas dalam kajian tentang diplomasi negara menengah Muslim.
Kerja sama antara Türkiye dan Malaysia juga meluas ke bidang seperti keuangan Islam, ekonomi halal, keamanan siber, energi, dan media, menempatkan kedua negara sebagai pemain berpengaruh dalam membentuk norma dan ekonomi kawasan.
Indonesia mewakili pusat gravitasi geostrategis dalam keterlibatan Türkiye dengan Indo-Pasifik.
Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan seorang aktor maritim yang penting, Indonesia memberi Türkiye skala, jangkauan, dan legitimasi regional.
Pada 2025, sebuah paket pertahanan bersejarah disepakati, termasuk penjualan 48 jet tempur KAAN dan produksi bersama Bayraktar TB3 serta UCAV Akinci, menandai terobosan industri pertahanan Türkiye yang paling signifikan di Asia Tenggara hingga saat ini.
Bersama-sama, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia menunjukkan relevansi substansial Türkiye di kawasan Indo-Pasifik.
Daripada memasuki kawasan sebagai pihak luar, Ankara sudah terbenam dalam jaringan strategis, ekonomi, dan keamanan kawasan.
Mengisi kekosongan dalam gambaran Türkiye di Indo-Pasifik
Seiring terus tumbuhnya keterlibatan Türkiye di Indo-Pasifik, langkah logis berikutnya adalah bagi Ankara untuk merumuskan perspektifnya sendiri tentang kawasan tersebut.
Ini bukan usaha untuk memperbaiki ketiadaan, melainkan evolusi alami dari kebijakan yang sudah aktif.
Istilah 'Indo-Pasifik' bukan label geografis yang netral, melainkan sebuah konstruksi politik yang dibentuk oleh kekuatan, identitas, dan niat strategis.
Cara kawasan didefinisikan memengaruhi siapa yang menetapkan agenda, siapa yang membentuk norma, dan aktor mana yang dilihat sebagai sentral.
Dalam hal ini, sebagian besar pemain besar sudah mengubah praktik menjadi konsep.
AS memandang Indo-Pasifik dalam kerangka persaingan strategis dengan China. India menekankan perannya sebagai kekuatan Samudera Hindia.
Uni Eropa mendekati kawasan melalui konektivitas dan pengaruh normatif.
Pentingnya, ASEAN juga telah merumuskan pandangannya tentang Indo-Pasifik yang berlandaskan inklusivitas, keterbukaan, dan sentralitas ASEAN.
NATO menggambarkannya sebagai "garis penyelarasan yang lebih besar".
Sementara itu, Türkiye menempuh jalur berbeda, memperdalam keterlibatannya dengan kawasan Indo-Pasifik terlebih dahulu dan mengembangkan kerangka konseptualnya kemudian.
Trajektori khas ini semakin disorot dalam analisis akademis: meskipun menahan diri untuk tidak mengadopsi label regional tetap, Ankara sudah beroperasi sebagai pemangku kepentingan Indo-Pasifik melalui diplomasi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Diplomasi ini memungkinkan Türkiye menjalin kemitraan secara independen dari narasi strategis yang ditetapkan dari luar.
Pada saat yang sama, merumuskan kosakata Indo-Pasifik yang lebih jelas akan memungkinkan Türkiye menerjemahkan momentum operasional menjadi kejelasan strategis.
Sementara Asia Anew Initiative memberi Ankara kotak alat kebijakan yang serbaguna, konsep Indo-Pasifik yang berpusat pada Türkiye akan menawarkan kerangka bersama yang memungkinkan mitra, akademisi, dan pembuat kebijakan lebih memahami ruang lingkup dan logika keterlibatan Türkiye.
Daripada membatasi pilihan, kerangka semacam itu akan memperkuat kapasitas Türkiye untuk menampilkan dirinya sebagai kekuatan menengah yang mendefinisikan perannya sendiri di Indo-Pasifik.
Menuju peta Indo-Pasifik versi Türkiye
Seiring meningkatnya keterlibatan Türkiye di Indo-Pasifik, menjadi semakin penting bagi Ankara untuk merumuskan pemahaman regionalnya sendiri guna mengkonsolidasikan posisinya sebagai kekuatan menengah yang membentuk aturan.
Konsep Indo-Pasifik yang berpusat pada Türkiye memungkinkan Ankara mencerminkan geografi, kepentingan, dan budaya strategisnya yang unik, sehingga mengubah keterlibatan yang meningkat menjadi kejelasan strategis.
Mengambil inspirasi dari pandangan inklusif ASEAN, visi Türkiye tentang Indo-Pasifik dapat dipahami sebagai jaringan terhubung dari ruang maritim dan ekonomi yang membentang dari pesisir timur Afrika melintasi Samudra Hindia dan Asia Tenggara hingga ke Pasifik barat dan tengah.
Dalam definisi ini, Indo-Pasifik tidak dilihat sebagai garis depan militer, melainkan sebagai koridor konektivitas di mana jalur laut, jaringan perdagangan, rute energi, serta interaksi politik dan ekonomi bertemu.
Batas-batas tidak menggambarkan penempatan militer atau garis aliansi. Sebaliknya, batas menyoroti ruang geoekonomi dan geopolitik di mana Türkiye sudah aktif melalui diplomasi, perdagangan, kerja sama industri pertahanan, inisiatif logistik, dan konektivitas.
Negara-negara yang disorot bukanlah sekutu ataupun lawan. Mereka mewakili tingkat keterlibatan yang berbeda dalam kerangka kebijakan luar negeri Türkiye yang fleksibel: mitra strategis, pemangku kepentingan signifikan, pesaing, dan mitra situasional.
Pendekatan ini mencerminkan strategi negara menengah Ankara yang lebih luas, yang memprioritaskan kemampuan beradaptasi, inklusivitas, dan kerja sama berbasis isu dibandingkan penyelarasan blok yang kaku.
Peta konseptual ini juga tidak menempatkan Türkiye dalam blok anti-China atau memperluas garis depan strategis NATO.
Sebaliknya, ia memberi sinyal komitmen pada inklusivitas, otonomi, dan keterlibatan multidimensi. Hal ini menyampaikan kepada kawasan, dan dunia, bahwa Türkiye memandang dirinya sebagai bagian dari jaringan Indo-Pasifik ketimbang kekuatan eksternal yang berpihak.
Bagi negara yang lama mendefinisikan dirinya sebagai Eropa dan Asia, serta sebagai bagian dari Mediterania dan Laut Hitam, menciptakan lingkup pengaruh Indo-Pasifik sendiri merupakan kelanjutan logis.
Ini adalah langkah logis berikutnya dalam kebijakan luar negeri Türkiye yang terus berkembang, yang mengakui realitas yang sudah ada di lapangan.
Sebagian besar kerangka Indo-Pasifik yang dikembangkan oleh AS, Jepang, India, Uni Eropa, dan NATO cenderung mengecualikan Afrika, karena mereka terutama merupakan konstruk yang berfokus pada keamanan dan berpusat pada keseimbangan militer serta persaingan strategis di Samudra Hindia dan Pasifik.
Dalam pendekatan-pendekatan ini, Afrika diperlakukan sebagai batas geografis daripada penghubung strategis.
Namun, Türkiye memasukkan Afrika dalam pemahaman tentang Indo-Pasifik karena pendekatannya berbasis konektivitas, berpusat pada jalur perdagangan maritim, koridor energi, jaringan logistik, dan keterlibatan diplomatik yang menghubungkan Mediterania, Laut Merah, Samudra Hindia, dan Pasifik.
Ini mencerminkan pandangan Türkiye tentang Indo-Pasifik sebagai sabuk kerja sama yang saling terhubung daripada blok keamanan yang tertutup.
Di era ketika wilayah tidak hanya didefinisikan oleh geografi, tetapi juga oleh gagasan, mereka yang gagal membuat peta sendiri berisiko dibatasi oleh peta orang lain.
Keterlibatan Türkiye dengan kawasan Indo-Pasifik sudah merupakan sebuah realitas. Memberi nama, kerangka, dan sebuah peta hanya akan membuat realitas itu menjadi terlihat.


















