Akankah agenda pergantian rezim AS berhasil di Venezuela?
DUNIA
2 menit membaca
Akankah agenda pergantian rezim AS berhasil di Venezuela?Dengan menyerang Venezuela, pemerintahan Trump menunjukkan keseriusannya kembali ke Doktrin Monroe 1823 yang membayangkan hegemoni AS di kawasan Amerika.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan Amerika telah melakukan "serangan skala besar" terhadap Venezuela. / AFP
5 Januari 2026

Amerika Serikat menargetkan pangkalan militer Venezuela di sedikitnya tiga kota, termasuk ibu kota Caracas, pada Sabtu dini hari, seiring pengumuman pemerintahan Trump soal penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya.

Perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menyusul serangan militer AS pada Senin terhadap sebuah dermaga di Venezuela yang diduga digunakan untuk operasi narkotika. Washington menuduh Maduro dan lingkaran dekatnya melindungi kartel narkoba, tuduhan yang dibantah keras oleh Caracas.

Namun, pertanyaan besar tetap mengemuka: apakah AS akan mampu menstabilkan Venezuela yang tengah tercekik masalah keuangan setelah sepenuhnya menggulingkan pemerintahan Maduro.

“Amerika Serikat telah menginvasi Venezuela dan menangkap presidennya. AS akan membawa Maduro ke Guantanamo (bukan ke AS) karena di sana mereka bisa menahannya tanpa akses komunikasi,” kata Edward Erickson, analis militer terkemuka AS dan profesor emeritus sejarah militer di Departemen War Studies, Marine Corps University.

“Pergantian rezim jarang berhasil bagi Amerika. Iran, Vietnam, Chile, Irak, Afghanistan, Libya. Kita mungkin bisa mengatakan Panama berhasil, tetapi yang lainnya justru menjadi masalah besar,” ujar Erickson kepada TRT World.

Trump sejak lama berargumen bahwa AS mengincar pergantian rezim di Venezuela, negara kaya minyak seperti Irak. Pemerintahan sosialis Venezuela diketahui dekat dengan Rusia, China, dan Iran. Moskwa dan Teheran pun mengecam serangan AS ke Venezuela.

TerkaitTRT Indonesia - Apa itu 'Doktrin Trump' dalam doktrin keamanan baru AS dan mengapa hal ini penting bagi dunia?

Namun, setelah guncangan awal akibat serangan dan kabar penangkapan Maduro oleh pasukan khusus AS, kepemimpinan sosialis Venezuela menunjukkan sikap menantang dengan menyerukan perlawanan nasionalistis terhadap “imperialisme Amerika.”

“Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah dialami negara ini,” kata Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López setelah serangan AS.

“Mereka telah menyerang kami, tetapi mereka tidak akan membuat kami tunduk. Bersatu, tentara dan warga sipil, kami akan membentuk tembok perlawanan yang tak dapat ditembus,” tambahnya. “Kami yang hari ini mengulurkan tangan persaudaraan, akan mengepalkan tinju untuk mempertahankan apa yang menjadi milik kami.”

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menuntut AS segera memberikan “bukti kehidupan” terkait kondisi Presiden Maduro dan istrinya dalam sambungan audio dengan televisi pemerintah VTV Venezuela. Ia menambahkan, serangan AS telah menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk pejabat, personel militer, dan warga sipil di berbagai wilayah Venezuela.

Kementerian Luar Negeri Venezuela juga mengecam serangan Amerika dan mendesak digelarnya pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangan AS ke Venezuela.

Berita ini masih terus berkembang…

SUMBER:TRT World