Pemerintah Indonesia pada Kamis (12/2) menyatakan bahwa Organisasi Papua Merdeka (OPM), kelompok separatis di Papua bertanggung jawab atas serangan bersenjata terhadap pesawat Smart Air di Papua Selatan yang terjadi tak lama setelah pesawat itu mendarat, menewaskan dua awak di kokpit.
Tim gabungan TNI-Polri yang menangani keamanan di Papua mengatakan temuan awal mengarah pada keterlibatan “kelompok kriminal bersenjata”, istilah yang digunakan pemerintah untuk menyebut kelompok separatis di wilayah itu.
Kepala Satuan Tugas Damai Cartenz, Faizal Ramadhani, menyebut aparat masih memburu pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab.
Akibat kejadian itu, penerbangan dari dan ke Bandara Koroway Batu dihentikan sementara waktu hingga pemberitahuan lebih lanjut, tambah Faizal.
Kementerian Perhubungan melaporkan, pesawat jenis Caravan yang dioperasikan oleh Smart Air dengan registrasi PK-SNR ditembaki saat menyentuh landasan di sebuah bandara di Papua Selatan pada Rabu (11/2).
Pilot dan kopilot tewas dalam insiden tersebut, sementara 13 penumpang—termasuk seorang bayi—dilaporkan selamat tanpa luka.
Sebagai latar belakang informasi, Papua berada di pulau yang sama dengan Papua Nugini dan pernah menjadi koloni Belanda sebelum memproklamasikan kemerdekaan pada 1961. Dua tahun kemudian, wilayah tersebut berada di bawah kendali Indonesia, yang kemudian menggelar referendum pada 1969 dengan sekitar 1.000 pemilih yang menyatakan bergabung dengan Indonesia.
OPM secara rutin mempersoalkan legitimasi pemungutan suara itu dan menyerukan referendum ulang.
Indonesia menolak tuntutan tersebut dengan merujuk pada dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap kedaulatan Indonesia atas Papua.
Konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok separatis telah berlangsung lama di Papua dan dalam beberapa tahun terakhir meningkat dengan sejumlah serangan mematikan di wilayah kaya sumber daya alam tersebut.




















