Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyaksikan penandatanganan 11 nota kesepahaman antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat dengan nilai mencapai $38,4 miliar dalam forum Business Summit yang digelar oleh US-ASEAN Business Council di Washington D.C.
Kesepakatan yang diumumkan pemerintah Indonesia pada Kamis tersebut mencakup potensi investasi di berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agrikultur, tekstil dan garmen, hingga manufaktur furnitur serta pengembangan teknologi dan semikonduktor. Penandatanganan berlangsung di Gedung U.S. Chamber of Commerce, melibatkan kolaborasi pemerintah dan swasta dari kedua negara.
Dalam pernyataan resmi, kerja sama ini disebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. Selain itu, kesepakatan tersebut juga dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Beberapa kesepakatan kunci mencakup kerja sama mineral kritis antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dengan perusahaan tambang AS, kolaborasi pemulihan ladang minyak antara Pertamina dan perusahaan jasa energi AS, serta kemitraan di sektor agrikultur seperti pengadaan jagung dan komoditas lain.
Ekonomi nasional
Sektor tekstil juga menjadi fokus melalui kerja sama kapas dan pengolahan pakaian bekas, sementara industri furnitur dan kayu mendapatkan akses pasar baru melalui kesepakatan dengan mitra Amerika.
Selain itu, kerja sama teknologi seperti semikonduktor dan pengembangan zona perdagangan bebas lintas negara turut disepakati, menandai langkah Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global teknologi.
Data dari US-ASEAN Business Council menunjukkan bahwa sebagian kesepakatan perdagangan mencakup rencana pembelian oleh perusahaan Indonesia terhadap komoditas AS, termasuk kedelai, jagung, kapas, serta gandum hingga beberapa juta ton dalam beberapa tahun ke depan.
Menjelang penandatanganan kesepakatan perdagangan final antara Indonesia dan Amerika Serikat, rangkaian MoU ini menjadi sinyal kuat peningkatan hubungan ekonomi bilateral kedua negara.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga setiap kesepakatan dengan investor asing. Kesepakatan ini diharapkan mendorong laju ekonomi nasional, membuka lebih banyak peluang kerja, memperkuat kualitas dan kapasitas sumber daya manusia, serta menegaskan peran Indonesia dalam jaringan rantai pasok global.










